Kongres dan Seminar Nasional Biologi XXIV 2017

17/03/2017

LATAR BELAKANG
Peranan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibidang keanekaragaman hayati semakin berkembang. Berbagai metode penelitian dan formula serta program-program statistika terbaru ditemukan untuk mengungkap keanekaragaman hayati, pelestarian dan pemanfaatannya meningkat beberapa dekade belakangan ini. Hal positif ini menunjang terwujudnya penemuan-penemuan baru di bidang biologi dalam berbagai aspek dan pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih berkelanjutan. Hal ini mendatangkan nilai-nilai positif bagi kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati, serta aspek biologi pada umumnya. Dengan demikian nilai-nilai ekologi, ekonomi, sosial, budaya dari keanekaragaman hayati dan manusia pun akan terpelihara untuk waktu yang lebih lama.

Selain ilmu dan teknologi yang menunjang pemanfaatan, prospek keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia (kearifan lokal) yang telah berakar di dalam masyarakat menyumbangkan hal positif untuk pengelolaan dan pemanfaatan berbagai sumber daya alam hayati. Nilai-nilai tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan sehingga kekayaan hayati yang terdapat di Indonesia dapat lestari.

Pendidikan dan penelitian menjadi dua aspek yang sangat penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta program konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek biologi dan ekologinya. Untuk itu, hasil-hasil penelitian dalam berbagai aspek biologi menjadi sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek lingkungannya. Hasil-hasil penelitian tersebut perlu diterapkan, namun perlu juga disebar luaskan agar diketahui masyarakat lebih luas. Untuk itu, berbagai publisitas hasil-hasil penelitian tersebut melalui majalah ilmiah, seminar, lokakarya dan konferensi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk menyebar luaskan informasi hasil-hasil penelitian bagi masyarakat secara luas, khususnya para praktisi biologi. Seminar Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Manado menjadi salah satu wadah yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.

TEMA
Research, Bioprospect and Sustainable use of Biological Diversity

SUB TEMA

  1. Bioteknologi
  2. Biodiversitas dan Biokonservasi
  3. Biologi Lingkungan
  4. Biofarmasi
  5. Pendidikan Biologi

TEMPAT DAN WAKTU
Pelaksanaan seminar akan dilakukan di AUDITORIUM UNSRAT Manado.
Tanggal : Jum’at, 25 Agustus 2017
Waktu : 08.00-17.00 WITA

Pemakalah Utama (Keynote Speakers)

  1. LIPI (Kepala masih dikonfirmasi)
  2. Dr. Siti Nuramaliati Prijono (Ketua Umum PBI, Biodiversitas dan Konservasi)
  3. Prof. Amin Subandrio (Kepala Eijkman, Mikrobiologi- Virus)
  4. Prof. Dr. Sri Nanan B. Widiyanto (Guru Besar ITB Bioteknologi )
  5. Prof. Dr.Ir. Herny I. Simbala, MS (Universitas Sam Ratulangi Manado, Biofarmasi)
  6. Prof. Dr. Orbanus Naharia (Universitas Negeri Manado, Biologi Lingkungan dan Pendidikan Biologi)
  7. Prof. Dr. Dingse Pandiangan, MSi (Universitas Sam Ratulangi, Bioteknologi)
  8. Dr. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.SC., Ph.D. (Universitas Brawijaya, Biodiversitas dan Konservasi)

Download Panduan Penulisan Abstrak, Makalah dan Poster

Download Leaflet PDF


SEMINAR NASIONAL KEANEKARAGAMAN HAYATI : “Komitmen Pemerintah Terhadap Aichi Targets”

06/12/2016
pbi-sem

Kepala Pusat Penelitian Biologi, Presenter Sesi ke 2 dan Ketua PBI

LIHAT GALERI FOTO DI SINI

Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Internasional pada tahun 2016 yang disertai dengan semangat untuk terus berkomitmen dan berkontribusi secara ilmiah dalam menjaga kelestarian kehati Indonesia serta mendukung pemanfaatannya secara berkelanjutan, LIPI melalui Pusat Penelitian Biologi bekerjasama dengan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Keanekaragaman Hayati dengan tema “Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Aichi Biodiversity Targets”. Seminar sehari yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 3 Desember 2016 di Gedung Kusnoto, Bogor ini memfokuskan pada pemaparan dan pembahasan tentang kesanggupan pemerintah Indonesia untuk terus berupaya mencapai terget-target kehati yang telah dicanangkan dan disepakati bersama di kancah internasional melalui Konvensi Keanekaragaman Hayati Persatuan Bangsa-Bangsa (UN-CBD).

Acara yang dihadiri oleh peneliti, organisasi profesi ilmiah, akademisi, mahasiswa LSM dan penggiat lingkungan bertujuan untuk menghimpuna masukan dalam rangka kontribusi organisasi-organisasi profesi ilmiah dan seluruh pihak terkait dalam mendukung pemerintah Indonesia mencapai Aichi Targets yaitu target global untuk mengurangi laju kehilangan kehati, demikian sambutan pembuka seminar yang disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara, Dr. Wartika Rosa Farida. Sementara itu, Ketua Umum PBI yang juga Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono menyampaikan bahwa kehati sebagai aset nasional harus dikelola untuk dapat dimanfaatkan untuk kejesahteraan manusia, oleh karena itu implementasi dari kegiatan internasional yang banyak diikuti harus ada yang mengeksekusi dan salah satunya adalah peneliti, yaitu melalui riset-riset yang dilakukan untuk mendukung pemanfaatan kehati. Aichi Biodiversity Targets yang memuat dua puluh target keanekaragaman hayati (kehati) yang dicanangkan enam tahun yang lalu, merupakan target-target kehati yang telah disepakati oleh negara-negara pihak pada Conference of the Paties (CoP) ke-10 Convention on Biological Diversity yang diselenggarakan di Nagoya, Aichi Prefecture, Jepang pada tahun 2010. Indonesia sendiri sudah mempunyai IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plans) yang telah disesuaikan dengan Aichi Targets dan merupakan acuan nasional dalam pengelolaan dan pemanfaatan kehati Indonesia sesuai dengan peraturan perundangan nasional yang berlaku. Dan tantangan dalam membangun potensi kehati Indonesia adalah belum terakomodirnya data kehati sebagai satu kesatuan yang utuh namun masih terpusat di masing-masing lembaga atau bahkan pribadi. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membuat country report dengan perencaan yang matang untuk tercapainya komitmen Indonesia yang sudag meratifikasi kehati. Dalam hal ini,

PBI diharapkan dapat berperan mengajak himpunan profesi yang berkaitan dengan kehati sebagai upaya membantu pemerintah dalam mengelola kehati di Indonesia. Demikian pula pada sambutan dan pembukaan seminar nasional kehati dari Kepala Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc. yang menyambut baik terlaksananya kegiatan tersebut. Ancaman kehati di Indonesia harus menjadi perhatian terutama untuk mengurangi laju kehilangan kehati dan habitatnya. Beberapa target yang sudah diklasifikasikan dan dicanangkan dalam Aichi Targets sudah mencakup semua aspek , namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa target yang dicapai belum masif diterapkan secara nasional. Concern utama LIPI terkait perdagangan dan konversi kawasan yang tidak tertata dan tersistem dengan baik, dapat justru dapat membahayakan kehati. Terkait dengan desiminasi kehati yang dikembangkan di Pusat Penelitian Biologi – LIPI dan mengacu pada global facility yaitu Indonesia Biodiversity Information Facility (InaBIF) diharapkan menjadi model bagi semua instansi dalam mengelola kehati yang terakomodir dengan baik. Witjak-pun berharap seluruh peserta bisa memperoleh wawasan dari Aichi Targets dan infomasi yang dihasilkan dari kegiatan ini bisa menjadi usulan dan masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi yang mengundang narasumber dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem-KLHK, PKSPL-IPB, MLI, PBI dan Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Sebelum acara penutupan, dibacakan 15 poin draft perumusan hasil seminar yang intinya memuat tentang isu gloal kerusakan lingkungan dan pelaksanaan dari Aichi Target yang dijadikan sebagai titik tolak dalam menyelamatkan kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati. Komitmen pemerintah Indonesia dalam mendukung kegiatan ini melalui penyusunan target nasional pengelolaan sumber daya hayati untuk kurun waktu 2015-2020 (IBSAP 2015-2020) dengan penyesuaian terhadap kondisi dan kebutuhan nasional. Dibahas pula “pekerjaan rumah” terutama dalam menyusun target dan indikator nasional untuk diimplementasikan, yang masih memiliki keterbatasan dan ketidak seragaman data Kehati Indonesia. Dan hal terpenting lainnya adalah kesediaan negara dalam hal dukungan keuangan dan teknis terhadap survai dan inventori kehati Indonesia. Kegiatan seminar sehari ini, ditutup oleh Ketua Pelaksana I PBI Pusat, Prof. Dr. Purnomo Soeharso yang berharap bahwa rumusan yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua stakeholder untuk jadikan acuan dibidangnya masing-masing.

Artikel ini ditulis oleh Yanti Eka Pertiwi (Humas Pusat Penelitian Biologi – LIPI)


SEMINAR NASIONAL KEANEKARAGAMAN HAYATI

25/11/2016

pbi-okDOWNLOAD LEMBAR KONFIRMASI DI SINI


HASIL SEMINAR NASIONAL PBI – 10 Oktober 2015

13/10/2015

big-3Lihat Galeri

Draf Rumusan, Seminar Nasional PBI

Tema

 “PERAN BIOLOGI UNTUK KEMANDIRIAN BANGSA”

Kerjasama : Perhimpunan Biologi Indonesia dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Jakarta, 10 Oktober 2015

  1. Perubahan paradigma ilmu pengetahuan pada abad XXI ditandai dengan pendekatan multi dan interdisiplin. Pakar biologi, fisika, kimia, matematika dan juga ilmu-ilmu sosial dan budaya serta pakar teknologi harus bekerja secara terintegrasi dalam memecahkan persoalan fundamental bangsa Indonesia.
  2. Para ahli biologi dapat berperan dalam meneliti dan mempublikasikan temuan-temuan untuk dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset dasar dan riset terapan harus membentuk sebuah kesinambungan. Agar sumberdaya hayati dapat dikomersialisasi perlu ditopang dengan teknologi yang memadai, pengelolaan kekayaan intelektual hasil penelitian yang sesuai, transfer teknologi untuk menunjang industri, dan jejaring antar pemangku kepentingan.
  3. Meskipun Indonesia memiliki catatan panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan hayati (biologi), namun SDM biologi Indonesia belum memiliki daya saing yang memadai. Oleh karena itu upaya untuk mendorong generasi muda dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi harus terus dilakukan. Dalam penyediaan dan pengembangan SDM, program studi biologi dan pendidikan biologi yang terakreditasi dan berkualitas sangat diperlukan dan perlu terus diwujudkan. Para ahli biologi melalui Perhimpunan Biologi Indonesia dapat berperan dalam mewujudkan program studi yang berkualitas melalui keterlibatannya dalam pendampingan pengembangan program studi.
  4. Untuk dapat memahami dan memanfaatkan nilai ekologi, ekonomi, sosial –budaya dan pertahanan (biosecurity dan bidefense) dari sumberdaya hayati Indonesia diperlukan perubahan cara pandang dan sikap untuk menumbuh-kembangkan kesadaran akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kemandirian bangsa sejak usia dini.
  5. Valuasi ekonomi dari sumberdaya hayati baik secara langsung maupun tidak langsung harus selalu dilakukan dalam setiap kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan sumbadaya hayati sehingga keberlanjutan dari fungsi ekosistem dalam menyediakan keanekaragaman hayati tetap dapat dipertahankan.
  6. Budaya inovasi dan kreativitas yang secara langsung dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi tanpa mengesampingkan keberlanjutannya harus terus ditumbuhkembangkan. Upaya untuk menjembatani proses inovasi melalui Business Innovation Center dapat dilakukan agar inovasi sampai pada tahapan komersialisasi.
  7. Tradisi ilmiah adalah nafas akademik yang perlu terus menerus dipupuk dan dikembangkan di Indonesia, terutama oleh komunitas biologiwan Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI).

 

Jakarta, 10 Oktober 2015

Tim Perumus

 

Prof. Dr. Eko Baroto Waluyo
Dr. Miftahdin
Dr. Ence Darmo Jaya Supena
Dr. Wartika Rosa Farida

Dr. Siti Nuramaliati Prijono Dr. Witjaksono
Dr. Bambang Sunarko Dr. Ence Darmo Jaya Supena, M.Si.
Dr. Nurul Taufiqu Rochman Dr.rer.nat. Ir. M. Mukhlis K., M.Sc.
Putri Irma Yuniarti, SE., M.S.E Drs. Isroil Samihardjo, M. Def. Stud.
Dr. Retno Widowati Prof. Dr. Yohanes Purwanto
Dr. Miftahudin MC – Vani

2Sesi – 1
3
Sesi – 2

1

 


SEMINAR SETENGAH HARI (Gratis)

25/09/2015

pbi-2


PBI Gelar Seminar Untuk Motivasi Peneliti Sumber Daya Alam Papua

22/09/2015
Lili

Ketua Perhimounan Biologi Indonesia (PBI) Siti Nuramaliati

Jayapura, beritalima.com – Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) menggelar seminar nasional Biologi di Auditorium Universitas Cenderawasih 08-10 September 2015.

Ketua umum Perhimpunan Biologi Indonesia, Siti Nuramaliati dalam kesempatan tersebut mengatakan, kegiatan seminar bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang potensi keanekaragaman hayati di Papua, dan juga mendorong peneliti-peneliti di Papua bisa menggali Potensi keanekaragaman hayati sehingga selain untuk ilmu pengetahuan juga bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Seminar kali ini diselenggarakan Karna keanekaragaman hayati di Papua melimpah yang selama ini belum dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga dengan teknologi mampu meningkatkan nilai tambah, misalnya jika ada satu tumbuhan yang jika dilakukan riset teknologi maka bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, misalkan untuk obat-obatan dan lain sebagainya,” katanya, Rabu (8/9/2015).

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan seminar biologi tersebut, diharapkan bisa memberikan motivasi kepada seluruh peneliti di Papua agar bersemangat untuk menggali potensi yang kekayaan alam di Papua, meskipun di akuinya, perkembangan peneliti biologi di Papua masih sangat lamban, baik dari segi penguasaan teknologinya, maupun peminat ilmu pengetahuan itu sendiri.

“Untuk di Papua memang masih lamban, karena ilmu biologi ini kan butuh ketekukanan dan juga dukungan baik itu fasilitas sarana dan prasarana dan dukungan dari Pemerintah, itu yang sangat penting, untuk ekplorasi saja kan butuh dana, dan itu tenaga – tenaga untuk bisa esplorasi ini kan tidak mudah, harus melaksanakn penelitian di lapangan,” katanya.

Sementara, Rektor Universitas Cenderawasih Dr.Onesimus Saheluka dalam kesempatan yang sama mengapresiasi seminar tersebut. Dikatakan, selama ini ilmu pengetahuan di Bidang Biologi masih minim peminatnya, sedang dilain pihak potensi Papua sangat besar, dan sampai hari ini belum bisa di teliti dengan baik.
“Di tanah Papua keanekaragaman sangat melimpah ,oleh kerena itu, kami dari Uncen berterimakasih atas seminar ini, sehingga dari seminar bisa berkontribusi bagi peserta seminar, dan untuk diaplikasikan untuk menjejaki penelitian di Papua,” katanya.

Seminar Biologi tersebut, selain dari universitas Cenderawasih, juga diikuti oleh beberapa instansi terkait, seperti dari kehutanan, kelautan, dan akademisi.(Edy/Papua).

Sumber : BERITA LIMA


Sarasehan Memperingatai Hari Jadi ke 45 PBI

26/03/2015

PBI-1Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) pada hari Jumat, 6 Maret 2015 bertempat di Gedung Kusnoto Lt. 6 malaksanakan kegiatan Sarasehan dalam rangka Ulang Tahun PBI ke 45. Acara yang dihadiri oleh sekitar 50 orang peserta ini terdiri dari peneliti, para pejabat struktural dilingkungan LIPI, pakar biologi/biologiwan dan peminat/pemerhati biologi mengambil tema “Kontribusi Ilmu Pengetahuan Bidang Biologi untuk Indonesia Sejahtera”. Hadir pula pada acara ini pakar biologi senior yang menjadi anggota dewan kepakaran PBI pusat dan merupakan pionir pengembangan ilmu biologi di Indonesia.

Agenda kegiatan sarasehan ini diawali dengan sambutan Kepala Pusat Penelitian Biologi – LIPI yang menyampaikan bahwa kegiatan sarasehan ini perlu dilakukan secara berkala sebagai forum bertukar gagasan dan diharapkan menjadi arena penurunan nilai-nilai persfektif kristal pengetahuan, idealisme, passion dari generasi yang lebih senior ke yang junior. Beliau juga menghimbau dengan hadirnya para pakar biologi dalam acara saresehan ini jangan sampai disia-siakan, tapi hendaknya dijadikan tempat bertanya dan meminta masukkan dalam upaya memanfatkan apa yang kita punya untuk masa yang akan datang. Topik sarasehan yang menghadapkan ilmu dasar biologi pada tantangan aplikatif kesejahteraan bisa menimbulkan kegamangan, namun jalur tersedia dan terserah pada kreativitas kita dalam merangkainya. Satu hal lagi yang sangat penting dan tidak kalah pentingnya dengan yang lain adalah aspek pendidikan untuk kehidupan. Perlu adanya penekanan aspek praktis dalam ilmu biologi sebagai sarana pengajaran dan pendidikan di sekolah. Hal ini menjadi modal utama dalam memahami dan memanfaatkan kekayaan biodivesity Indonesia yang saking kayanya belum selesai kita menghitungnya tetapi justru telah menarik peneliti asing untuk mendapatkan akses dengan berbagai cara, dan kemungkinan terjadinya biopiracy tidak bisa dihentikan. Padahal dalam pasal 33 ayat 3 UUD 45 dan amandemennya memberi landasan hukum yang kuat bahwa biodiversity yang merupakan modal dalam kerjasama dengan asing adalah milik negara kita dan sebesar-besarnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Mengarahkan ilmu biologi untuk membangun masyarakat sejahtera melalui biodiversity bukan merupakan tantangan yang terlalu berat. Ketajaman memilih topik yang relevan, dedikasi, kerja keras, passion, antusiasm, sinergi, integritas adalah kata-kata kunci yang perlu dihayati dan diterapkan untuk mengelola biodiversity untuk kesejahteraan Indonesia.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan acara Saresahan dalam rangka Ulang Tahun PBI ke 45 oleh ketua umum PBI yang juga merupakan Sestama LIPI. Pada sambutannya beliau menyampaikan bahwa abad 21 ini merupakan “Abad Biologi” dan pada kesempatan inilah PBI dengan para pakar dan ahli biologinya sudah seharusnya dapat menunjukkan kontribusinya kepada pemerintah khususnya bangsa Indonesia sehingga Indonesia bisa mandiri, berdaya saing dengan kekayaan yang berlimpah yang ada di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Keberadaan ilmu biologi berperan penting terutama dalam pengembangan industri berbasis biologi yang sudah diadopsi oleh banyak negara di Eropa dan Amerika. Tidak ketinggalan negara Malaysia juga sudah me-launching bio ekonomi pada tahun 2012. Sedangkan Indonesia sendiri masih belum jelas sektoralnya dan tidak mengarah kepada pentingnya biologi, padahal Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah, namun ternyata belum bisa memanfaatkan kekayaan itu seoptimal mungkin, malah para peneliti asing yang datang ke Indonesia mencuri dan mengembangkannya.

Pemerintah belum menganggap penting penelitian mengeksplore kekayaan potensi yang berupa keanekaragam hayati yang kita miliki, sehingga perjalanan dinas kena potong terus. Dengan demikian perlu kiranya ada pihak yang dapat memberikan masukan kepada pemerintah akan pentingnya mengeksplore, mengungkapkan kekayaan dan juga potensinya serta riset-riset yang berbasis bio untuk mendukung bio ekonomi di Indonesia agar jangan sampai dimanfaatkan oleh negara asing. Sejarah mencatat bahwa dalam mencari jawaban pertanyaan sejak awal abad ke 19 berkembang pola-pola pemikiran para biolog yang pada awalnya bersifat filsafati berubah menjadi eksperimental dan ini merupakan tantangan bagi para biolog. Dimasa yang akan datang biologi memiliki posisi menentukan dalam menjamin kelangsungan kehidupan di planet bumi, oleh karena itu biologi modern akan ditentukan oleh penguasaaan disiplin bidang biokimia, genetika dan mikrobiologi menurut Prof. Mien Achmad Rifai M.Sc.,Ph.D. Sejarah perkembangan keilmuan pada bidang biologi terbukti telah dapat meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam penelitian ilmiah, oleh karena itu penyadaran terhadap pentingnya pengembangan ilmu biologi harus terus ditanamkan kepada generasi muda. Dengan menanamkan, membesarkan dan menentukan bibit-bibit budaya ilmiah. Ketimpangan pemahaman antara ilmu biologi dasar dan biologi terapan perlu segera mendapatkan pencerahan, oleh karena itu dalam sarasehan ini akan didiskusikan beberapa topik bahasan yang terkait dengan kontribusi ilmu pengetahuan bidang biologi untuk Indonesia sejahtera.

PBI-5Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dibagi dalam 3 sesi. Sesi I diisi dengan pemaparan mengenai peran organisasi profesi dalam memfasilitasi pengembangan kapasitas bagi penelitian, pendidikan dan komunikasi, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kesiapan SDM di perguruan tinggi dalam pembelajaran biologi dan diakhiri dengan pemaparan progress update IBSAP 2015-2020. Acara kemudian dilanjutkan setelah solat Jumat dengan diskusi sesi II yang diawali pemaparan mengenai peran ilmu pengetahuan dasar bidang biologi taksonomi dan biosistematik dalam era bioteknologi, kemudian disambung dengan pemaparan mengenai biologi kedokteran sabagai sarana meningkatkan kualitas SDM Indonesia dan diakhiri dengan biologi lingkungan dan evolusi. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi III yang diawali pemaparan mengenai peran satwa liar dalam penyebaran penyakit zoonatik yang dilanjutkan dengan pemaparan etnobotani dengan mengangkat tema menggali budaya lokal yang arif untuk pengembangan iptek dan diakhiri dengan mengetengahkan bahan diskusi dengan tema menakar kontribusi mikrobiologi dalam mensejahterakan Indonesia.

PBI-6Di akhir acara sarasehan ditutup oleh Ketua Umum PBI (dalam hal ini diwakili oleh Sekjen PBI). Beliau menyampaikan terimaksihnya pada semua peserta dan pembicara yang tampil hari ini terutama terkait dengan saran, masukan, kritik terkait dengan Perhimpunan Biologi Indonesia yang memang faktanya adalah perlu mendapat perhatian khusus. Beliau berpesan agar seluruh pengurus berupaya dan bekerja keras untuk mewujudkan semua saran, usulan dan kritikan yang telah disampaikan oleh para peserta yang hadir, hal ini agar PBI bisa menjadi lebih bermanfaat dan berdayaguna untuk stake holder semua termasuk kita. Beliau juga berharap agar hasil saresahan ini dapat dijadikan bahan diskusi untuk dapat ditindaklanjuti bagaimana sebaiknya program-program PBI perlu dilaksanakan di masa depan. Terkait dengan rumusan 7a sampai i yang dihasilhan dari acara saresehan ini, PBI disarankan agar semua poin menjadi fokus dalam upaya perbaikan, juga disampaikan pula ucapan terimakasih kepada seluruh panitia puslit Biologi yang memfasilitasi kegiatan ini, tidak lupa permintaan maaf kepada semua peserta yang hadir bilamana pelayanan dari Pengurus Pusat Perhimpunan Biologi Indonesia masih di rasa kurang, serta perminta maaf bila pelaksanaan sarasehan yang memakan waktu dari pagi sampai sore ini kurang memuaskan peserta yang hadir.

PBI-4Rumusan kegiatan sarasehan dalam rangka memperingati ulang tahun PBI ke 45, di Gedung Kusnoto lantai 6, hari Jumat, 6 Maret 2015.

  1. Sumbangan ilmu biologi untuk membangun masyarakat sejahtera melalui sumber daya biologi yang dimiliki bangsa Indonesia bukan merupakan tantangan yang terlalu berat, ketajaman dalam memilih topik yang relevan, dedikasi, kerja keras, passion, autusiasm, sinergi dan integritas adalah kata kunci yang harus di fahami oleh setiap anggota PBI agar memiliki komitmen yang sama dalam mengembangkan ilmu biologi.
  2. Untuk cepat mengambil manfaat semua produk kecendikiaan dalam bidang biologi, perlu penajaman kesinambungan mata rantai hasil kegiatan semua pranata litbang mulai dari penelitian dasar dan terapan, pengembangan teknologi dan pencitraan inovasi teknik produksi.
  3. Budaya IPTEK khususnya biologi perlu ditumbuhkan dan dimapankan untuk membuat semua orang Indonesia memahami, menghayati dan mengamalkan bahwa “Biology is a fundamental for agrycultural, medicinal, and bio industrial development”.
  4. Ilmu dasar biologi termasuk ilmu taksonomi dan sistematika memiliki manfaat yang sangat besar bagi pembangunan bangsa jika pengembangan dan pemanfaatan ilmu tersebut melibatkan kemajuan pengetahuan dan teknologi modern, oleh karena itu perlu upaya menyadarkan pengambil kebijakan bahwa penelitian ilmu dasar biologi merupakan agenda yang sama pentingnya dengan agenda-agenda lain dari pembangunan bangsa.
  5. Riset dan pengembangan bidang biologi kedokteran perlu dikembangkan untuk mengungkap pengetahuan dasar biologi manusia indonesia sehingga dapat dimanfaatkan bagi dunia kedokteran Indonesia yang tidak bergantung pada bangsa lain.
  6. Kekayaan khasanah biologi Indonesia seperti kekayaan, keragaman dan keunikan mikroba, tumbuhan dan satwa liar dan endemik serta kekayaan etnobiologi Indonesia hendaknya menjadi modal bangsa yang harus diamankan, dipelihara, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kemandirian bangsa yang lebih sejahtera. Hal ini memerlukan upaya untuk menyadarkan masyarakat dan pengambil kebijakan akan pentingnya memelihara lingkungan dan kekayaan hayati Indonesia.
  7. (Khusus untuk PBI) PBI diharapkan (dalam beberapa hal harus):
  8. Mulai menggalakan anggotanya agar mampu menemukan bentuk-bentuk hasil kontribusinya yang betul-betul user friendly karena mudah dipakai dan dimanfaatkan oleh para penggaris kebijakan, pengambil keputusan, perencana kegiatan dan pengetahuan.
  9. Dikelola dengan lebih profesional sehingga kualitas organisasi profesi PBI akan setara dengan organisasi profesi lain baik di dalam maupun di luar negeri.
  10. Bekerjasama dengan cabang-cabang PBI di seluruh Indonesia untuk memberdayakan potensi yang ada pada setiap cabang dalam rangka membangun PBI yang lebih besar dan kuat.
  11. Dapat terlibat dalam perumusan dan implementasi kehati di Indonesia termasuk menciptakan peluang agar kegiatan riset dasar di bidang biologi mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah atau pengambil kebijakan.
  12. Menjadi perekat antara perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bidang biologi sehingga dapat bersama-sama membangun kompetensi biologi untuk menghadapi era biologi abad 21 melalui resource sharingdan kerjasama yang lebih produktif.
  13. Dapat berkembang menjadi organisasi profesi yang menjadi rujukan dalam pengembangan kurikulum pendidikan biologi di Indonesia dari mulai sekola dasar sampai perguruan tinggi.
  14. Dapat memberdayakan lulusan biologi dari segi regulasi pemerintah untuk memudahkan penempatan sarjana biologi dalam dunia kerja.
  15. Dapat menjadi garda terdepan dalam upaya mendorong minat generasi muda dalam menekuni bidang biologi.
  16. Diharapkan memiliki jurnal ilmiah berskala intenasional yang berkelas (terindeks scopus atau sci thomson) sebagai sarana untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian biologi di Indonesia dan juga promosi PBI ke dunia internasional.

Artikel ini ditulis oleh : Yanti Eka Pertiwi (Humas Puslit Biologi) | 25 Maret 2015