Kongres dan Seminar Nasional Biologi XXIV 2017

17/03/2017

LATAR BELAKANG
Peranan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibidang keanekaragaman hayati semakin berkembang. Berbagai metode penelitian dan formula serta program-program statistika terbaru ditemukan untuk mengungkap keanekaragaman hayati, pelestarian dan pemanfaatannya meningkat beberapa dekade belakangan ini. Hal positif ini menunjang terwujudnya penemuan-penemuan baru di bidang biologi dalam berbagai aspek dan pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih berkelanjutan. Hal ini mendatangkan nilai-nilai positif bagi kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati, serta aspek biologi pada umumnya. Dengan demikian nilai-nilai ekologi, ekonomi, sosial, budaya dari keanekaragaman hayati dan manusia pun akan terpelihara untuk waktu yang lebih lama.

Selain ilmu dan teknologi yang menunjang pemanfaatan, prospek keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia (kearifan lokal) yang telah berakar di dalam masyarakat menyumbangkan hal positif untuk pengelolaan dan pemanfaatan berbagai sumber daya alam hayati. Nilai-nilai tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan sehingga kekayaan hayati yang terdapat di Indonesia dapat lestari.

Pendidikan dan penelitian menjadi dua aspek yang sangat penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta program konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek biologi dan ekologinya. Untuk itu, hasil-hasil penelitian dalam berbagai aspek biologi menjadi sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek lingkungannya. Hasil-hasil penelitian tersebut perlu diterapkan, namun perlu juga disebar luaskan agar diketahui masyarakat lebih luas. Untuk itu, berbagai publisitas hasil-hasil penelitian tersebut melalui majalah ilmiah, seminar, lokakarya dan konferensi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk menyebar luaskan informasi hasil-hasil penelitian bagi masyarakat secara luas, khususnya para praktisi biologi. Seminar Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Manado menjadi salah satu wadah yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.

TEMA
Research, Bioprospect and Sustainable use of Biological Diversity

SUB TEMA

  1. Bioteknologi
  2. Biodiversitas dan Biokonservasi
  3. Biologi Lingkungan
  4. Biofarmasi
  5. Pendidikan Biologi

TEMPAT DAN WAKTU
Pelaksanaan seminar akan dilakukan di AUDITORIUM UNSRAT Manado.
Tanggal : Jum’at, 25 Agustus 2017
Waktu : 08.00-17.00 WITA

Pemakalah Utama (Keynote Speakers)

  1. LIPI (Kepala masih dikonfirmasi)
  2. Dr. Siti Nuramaliati Prijono (Ketua Umum PBI, Biodiversitas dan Konservasi)
  3. Prof. Amin Subandrio (Kepala Eijkman, Mikrobiologi- Virus)
  4. Prof. Dr. Sri Nanan B. Widiyanto (Guru Besar ITB Bioteknologi )
  5. Prof. Dr.Ir. Herny I. Simbala, MS (Universitas Sam Ratulangi Manado, Biofarmasi)
  6. Prof. Dr. Orbanus Naharia (Universitas Negeri Manado, Biologi Lingkungan dan Pendidikan Biologi)
  7. Prof. Dr. Dingse Pandiangan, MSi (Universitas Sam Ratulangi, Bioteknologi)
  8. Dr. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.SC., Ph.D. (Universitas Brawijaya, Biodiversitas dan Konservasi)

Download Leaflet PDF


SEMINAR NASIONAL KEANEKARAGAMAN HAYATI : “Komitmen Pemerintah Terhadap Aichi Targets”

06/12/2016
pbi-sem

Kepala Pusat Penelitian Biologi, Presenter Sesi ke 2 dan Ketua PBI

LIHAT GALERI FOTO DI SINI

Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Internasional pada tahun 2016 yang disertai dengan semangat untuk terus berkomitmen dan berkontribusi secara ilmiah dalam menjaga kelestarian kehati Indonesia serta mendukung pemanfaatannya secara berkelanjutan, LIPI melalui Pusat Penelitian Biologi bekerjasama dengan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Keanekaragaman Hayati dengan tema “Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Aichi Biodiversity Targets”. Seminar sehari yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 3 Desember 2016 di Gedung Kusnoto, Bogor ini memfokuskan pada pemaparan dan pembahasan tentang kesanggupan pemerintah Indonesia untuk terus berupaya mencapai terget-target kehati yang telah dicanangkan dan disepakati bersama di kancah internasional melalui Konvensi Keanekaragaman Hayati Persatuan Bangsa-Bangsa (UN-CBD).

Acara yang dihadiri oleh peneliti, organisasi profesi ilmiah, akademisi, mahasiswa LSM dan penggiat lingkungan bertujuan untuk menghimpuna masukan dalam rangka kontribusi organisasi-organisasi profesi ilmiah dan seluruh pihak terkait dalam mendukung pemerintah Indonesia mencapai Aichi Targets yaitu target global untuk mengurangi laju kehilangan kehati, demikian sambutan pembuka seminar yang disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara, Dr. Wartika Rosa Farida. Sementara itu, Ketua Umum PBI yang juga Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono menyampaikan bahwa kehati sebagai aset nasional harus dikelola untuk dapat dimanfaatkan untuk kejesahteraan manusia, oleh karena itu implementasi dari kegiatan internasional yang banyak diikuti harus ada yang mengeksekusi dan salah satunya adalah peneliti, yaitu melalui riset-riset yang dilakukan untuk mendukung pemanfaatan kehati. Aichi Biodiversity Targets yang memuat dua puluh target keanekaragaman hayati (kehati) yang dicanangkan enam tahun yang lalu, merupakan target-target kehati yang telah disepakati oleh negara-negara pihak pada Conference of the Paties (CoP) ke-10 Convention on Biological Diversity yang diselenggarakan di Nagoya, Aichi Prefecture, Jepang pada tahun 2010. Indonesia sendiri sudah mempunyai IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plans) yang telah disesuaikan dengan Aichi Targets dan merupakan acuan nasional dalam pengelolaan dan pemanfaatan kehati Indonesia sesuai dengan peraturan perundangan nasional yang berlaku. Dan tantangan dalam membangun potensi kehati Indonesia adalah belum terakomodirnya data kehati sebagai satu kesatuan yang utuh namun masih terpusat di masing-masing lembaga atau bahkan pribadi. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membuat country report dengan perencaan yang matang untuk tercapainya komitmen Indonesia yang sudag meratifikasi kehati. Dalam hal ini,

PBI diharapkan dapat berperan mengajak himpunan profesi yang berkaitan dengan kehati sebagai upaya membantu pemerintah dalam mengelola kehati di Indonesia. Demikian pula pada sambutan dan pembukaan seminar nasional kehati dari Kepala Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc. yang menyambut baik terlaksananya kegiatan tersebut. Ancaman kehati di Indonesia harus menjadi perhatian terutama untuk mengurangi laju kehilangan kehati dan habitatnya. Beberapa target yang sudah diklasifikasikan dan dicanangkan dalam Aichi Targets sudah mencakup semua aspek , namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa target yang dicapai belum masif diterapkan secara nasional. Concern utama LIPI terkait perdagangan dan konversi kawasan yang tidak tertata dan tersistem dengan baik, dapat justru dapat membahayakan kehati. Terkait dengan desiminasi kehati yang dikembangkan di Pusat Penelitian Biologi – LIPI dan mengacu pada global facility yaitu Indonesia Biodiversity Information Facility (InaBIF) diharapkan menjadi model bagi semua instansi dalam mengelola kehati yang terakomodir dengan baik. Witjak-pun berharap seluruh peserta bisa memperoleh wawasan dari Aichi Targets dan infomasi yang dihasilkan dari kegiatan ini bisa menjadi usulan dan masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi yang mengundang narasumber dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem-KLHK, PKSPL-IPB, MLI, PBI dan Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Sebelum acara penutupan, dibacakan 15 poin draft perumusan hasil seminar yang intinya memuat tentang isu gloal kerusakan lingkungan dan pelaksanaan dari Aichi Target yang dijadikan sebagai titik tolak dalam menyelamatkan kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati. Komitmen pemerintah Indonesia dalam mendukung kegiatan ini melalui penyusunan target nasional pengelolaan sumber daya hayati untuk kurun waktu 2015-2020 (IBSAP 2015-2020) dengan penyesuaian terhadap kondisi dan kebutuhan nasional. Dibahas pula “pekerjaan rumah” terutama dalam menyusun target dan indikator nasional untuk diimplementasikan, yang masih memiliki keterbatasan dan ketidak seragaman data Kehati Indonesia. Dan hal terpenting lainnya adalah kesediaan negara dalam hal dukungan keuangan dan teknis terhadap survai dan inventori kehati Indonesia. Kegiatan seminar sehari ini, ditutup oleh Ketua Pelaksana I PBI Pusat, Prof. Dr. Purnomo Soeharso yang berharap bahwa rumusan yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua stakeholder untuk jadikan acuan dibidangnya masing-masing.

Artikel ini ditulis oleh Yanti Eka Pertiwi (Humas Pusat Penelitian Biologi – LIPI)


SEMINAR NASIONAL KEANEKARAGAMAN HAYATI

25/11/2016

pbi-okDOWNLOAD LEMBAR KONFIRMASI DI SINI


Seminar Regional Biologi I dan Pembentukan PBI Cabang Jambi

19/10/2016

pbi-1Tarian Pembuka

Tema

“Meningkatkan Peran Biologi dalam Pembangunan Daerah Jambi”
Hotel Golden Harvest – Jambi,  15 Oktober  2016

Seminar Regional Biologi I dan Pembentukan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Jambi telah diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi (Unja) pada Sabtu, 15 Oktober 2016 di Golden Harvest Hotel Jambi.  Tema Seminar adalah ” Meningkatkan Peran Biologi dalam Pembangunan Daerah Jambi”.

Acara tersebut dibuka oleh Dr. Bambang Hariyadi, M.Si. selaku Ketua Pelaksana Kegiatan dan melaporkan bahwa peserta seminar selain dosen, melibatkan juga guru-guru SMA yang mengajar biologi dari berbagai Kabupaten di Jambi. Beliau juga menyampaikan dengan terbentuknya wadah bagi para biologi yaitu PBI Cabang Jambi, maka para biologiwan (dosen, guru, praktisi dan pemerhati biologi) dapat berpartisipasi, meneliti, mengajar, dan sebagainya, yang terkait dengan aset biologi untuk kemajuan Indonesia, dan Jambi khususnya.

Selanjutnya dalam Sambutan Ketua Umum PBI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono menyampaikan bahwa masih banyak yang bisa digali dari Propinsi Jambi khususnya potensi dari tumbuhan dan hewan yang berada di hutan-hutan.   Untuk itu masih banyak peluang bagi Dosen, Guru dan mahasiswa untuk mengeksplorasi dan menggali potensi keragaman hayati tersebut. Acara Seminar dibuka oleh Dekan FKIP yang diwakili oleh Dr. Syamsurizal, M.Si.
pbi-3Pelantikan pengurus PBI Cabang Jambi dilakukan langsung oleh ketua PBI Umum Dr. Siti Nurmaliati Prijono dan dihadiri oleh sekretaris PBI Pusat Dr. Wartika Rosa Farida, Dekan FKIP yang diwakili oleh Dr. Syamsurizal, M.Si, serta Akademisi Biologi Provinsi Jambi. Ketua Umum PBI mengatakan bahwa menjadi tugas dari Pengurus dan anggota PBI di wilayah Jambi untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pentingnya hutan bagi kehidupan melalui bidang penelitian ataupun pendidikan biologi.   Selain itu PBI Cabang Jambi hendaknya mensosialisasikan bahwa ilmu biologi sangat penting dalam kehidupan manusia dan hendaknya dapat membantu permasalahan yang ada di Jambi serta membantu memberikan kebijakan untuk mencari jalan keluar.

pbi-2Dalam konferensi Press, Dr Tedjo Sukmono, M.Si., Ketua PBI Cabang Jambi yang baru dilantik mengatakan akan menggelar agenda penelitian biologi yang dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah. Selain itu PBI Cabang Jambi sebagai salah satu organisasi ilmiah akan bekerjasama dengan berbagai jurnal ilmiah sehingga dapat menaikkan nilai kareditasi jurnal ilmiah tersebut.  Selanjutnya menurut Dr. Tedjo, PBI Cabang Jambi dapat mewadahi peneliti dibidang biologi untuk melakukan penelitian secara terstrukur dalam upaya pelestarian serta pembangunan di Jambi.


HASIL SEMINAR NASIONAL PBI – 10 Oktober 2015

13/10/2015

big-3Lihat Galeri

Draf Rumusan, Seminar Nasional PBI

Tema

 “PERAN BIOLOGI UNTUK KEMANDIRIAN BANGSA”

Kerjasama : Perhimpunan Biologi Indonesia dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Jakarta, 10 Oktober 2015

  1. Perubahan paradigma ilmu pengetahuan pada abad XXI ditandai dengan pendekatan multi dan interdisiplin. Pakar biologi, fisika, kimia, matematika dan juga ilmu-ilmu sosial dan budaya serta pakar teknologi harus bekerja secara terintegrasi dalam memecahkan persoalan fundamental bangsa Indonesia.
  2. Para ahli biologi dapat berperan dalam meneliti dan mempublikasikan temuan-temuan untuk dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset dasar dan riset terapan harus membentuk sebuah kesinambungan. Agar sumberdaya hayati dapat dikomersialisasi perlu ditopang dengan teknologi yang memadai, pengelolaan kekayaan intelektual hasil penelitian yang sesuai, transfer teknologi untuk menunjang industri, dan jejaring antar pemangku kepentingan.
  3. Meskipun Indonesia memiliki catatan panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan hayati (biologi), namun SDM biologi Indonesia belum memiliki daya saing yang memadai. Oleh karena itu upaya untuk mendorong generasi muda dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi harus terus dilakukan. Dalam penyediaan dan pengembangan SDM, program studi biologi dan pendidikan biologi yang terakreditasi dan berkualitas sangat diperlukan dan perlu terus diwujudkan. Para ahli biologi melalui Perhimpunan Biologi Indonesia dapat berperan dalam mewujudkan program studi yang berkualitas melalui keterlibatannya dalam pendampingan pengembangan program studi.
  4. Untuk dapat memahami dan memanfaatkan nilai ekologi, ekonomi, sosial –budaya dan pertahanan (biosecurity dan bidefense) dari sumberdaya hayati Indonesia diperlukan perubahan cara pandang dan sikap untuk menumbuh-kembangkan kesadaran akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kemandirian bangsa sejak usia dini.
  5. Valuasi ekonomi dari sumberdaya hayati baik secara langsung maupun tidak langsung harus selalu dilakukan dalam setiap kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan sumbadaya hayati sehingga keberlanjutan dari fungsi ekosistem dalam menyediakan keanekaragaman hayati tetap dapat dipertahankan.
  6. Budaya inovasi dan kreativitas yang secara langsung dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi tanpa mengesampingkan keberlanjutannya harus terus ditumbuhkembangkan. Upaya untuk menjembatani proses inovasi melalui Business Innovation Center dapat dilakukan agar inovasi sampai pada tahapan komersialisasi.
  7. Tradisi ilmiah adalah nafas akademik yang perlu terus menerus dipupuk dan dikembangkan di Indonesia, terutama oleh komunitas biologiwan Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI).

 

Jakarta, 10 Oktober 2015

Tim Perumus

 

Prof. Dr. Eko Baroto Waluyo
Dr. Miftahdin
Dr. Ence Darmo Jaya Supena
Dr. Wartika Rosa Farida

Dr. Siti Nuramaliati Prijono Dr. Witjaksono
Dr. Bambang Sunarko Dr. Ence Darmo Jaya Supena, M.Si.
Dr. Nurul Taufiqu Rochman Dr.rer.nat. Ir. M. Mukhlis K., M.Sc.
Putri Irma Yuniarti, SE., M.S.E Drs. Isroil Samihardjo, M. Def. Stud.
Dr. Retno Widowati Prof. Dr. Yohanes Purwanto
Dr. Miftahudin MC – Vani

2Sesi – 1
3
Sesi – 2

1

 


SEMINAR SETENGAH HARI (Gratis)

25/09/2015

pbi-2


PBI Gelar Seminar Untuk Motivasi Peneliti Sumber Daya Alam Papua

22/09/2015
Lili

Ketua Perhimounan Biologi Indonesia (PBI) Siti Nuramaliati

Jayapura, beritalima.com – Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) menggelar seminar nasional Biologi di Auditorium Universitas Cenderawasih 08-10 September 2015.

Ketua umum Perhimpunan Biologi Indonesia, Siti Nuramaliati dalam kesempatan tersebut mengatakan, kegiatan seminar bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang potensi keanekaragaman hayati di Papua, dan juga mendorong peneliti-peneliti di Papua bisa menggali Potensi keanekaragaman hayati sehingga selain untuk ilmu pengetahuan juga bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Seminar kali ini diselenggarakan Karna keanekaragaman hayati di Papua melimpah yang selama ini belum dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga dengan teknologi mampu meningkatkan nilai tambah, misalnya jika ada satu tumbuhan yang jika dilakukan riset teknologi maka bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, misalkan untuk obat-obatan dan lain sebagainya,” katanya, Rabu (8/9/2015).

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan seminar biologi tersebut, diharapkan bisa memberikan motivasi kepada seluruh peneliti di Papua agar bersemangat untuk menggali potensi yang kekayaan alam di Papua, meskipun di akuinya, perkembangan peneliti biologi di Papua masih sangat lamban, baik dari segi penguasaan teknologinya, maupun peminat ilmu pengetahuan itu sendiri.

“Untuk di Papua memang masih lamban, karena ilmu biologi ini kan butuh ketekukanan dan juga dukungan baik itu fasilitas sarana dan prasarana dan dukungan dari Pemerintah, itu yang sangat penting, untuk ekplorasi saja kan butuh dana, dan itu tenaga – tenaga untuk bisa esplorasi ini kan tidak mudah, harus melaksanakn penelitian di lapangan,” katanya.

Sementara, Rektor Universitas Cenderawasih Dr.Onesimus Saheluka dalam kesempatan yang sama mengapresiasi seminar tersebut. Dikatakan, selama ini ilmu pengetahuan di Bidang Biologi masih minim peminatnya, sedang dilain pihak potensi Papua sangat besar, dan sampai hari ini belum bisa di teliti dengan baik.
“Di tanah Papua keanekaragaman sangat melimpah ,oleh kerena itu, kami dari Uncen berterimakasih atas seminar ini, sehingga dari seminar bisa berkontribusi bagi peserta seminar, dan untuk diaplikasikan untuk menjejaki penelitian di Papua,” katanya.

Seminar Biologi tersebut, selain dari universitas Cenderawasih, juga diikuti oleh beberapa instansi terkait, seperti dari kehutanan, kelautan, dan akademisi.(Edy/Papua).

Sumber : BERITA LIMA