KONGRES DAN SEMINAR NASIONAL BIOLOGI XXIV 2017

26/05/2017

PEMBERITAHUAN

Waktu penerimaan Abstrak diperpanjangan, yang semula sampai dengan tanggal 30 Juni 2017, diperpanjang hingga 10 Juli 2017

DOWNLOAD

  1. Poter Seminar PBI 2017
  2. Panduan Makalah Revisi
  3. Panduan Abstrak
  4. LEAFLET Seminar PBI  XXIV di Manado
  5. Fieltrips
  6. Daftar Hotel

Mantan Rektor UI MK Tadjudin BerpuLang

08/05/2017


Rektor Universitas Indonesia (periode 1994-1998) Prof Dr dr Muhammad Kamil Tadjudin, Sp And (80) meninggal di Rumah Sakit MMC di Jakarta, Jumat (5/5). Almarhum dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Almarhum pernah menjabat Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi serta Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah. Rektor UI M Anis mengenang almarhum sebagai sosok rendah hati, tetapi berwibawa. “Lebih dari 50 tahun pengabdiannya di bidang kedokteran dan kesehatan, baik sebagai dokter maupun sebagai pendidik,” katanya. Almarhum lulus Kedokteran UI pada 1962 dan menikah dengan dr Oemi Alifah. Memperingati 50 tahun pengabdiannya (1962-2012), UIN memberikan penghargaan dalam acara Golden Anniversary. Dekan FK UI Ratna Sitompul menilai almarhum berjasa membangun mutu pendidilcan tinggi di Indonesia.

Kompas 6 May 2017


PBI Gelar Seminar Untuk Motivasi Peneliti Sumber Daya Alam Papua

22/09/2015
Lili

Ketua Perhimounan Biologi Indonesia (PBI) Siti Nuramaliati

Jayapura, beritalima.com – Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) menggelar seminar nasional Biologi di Auditorium Universitas Cenderawasih 08-10 September 2015.

Ketua umum Perhimpunan Biologi Indonesia, Siti Nuramaliati dalam kesempatan tersebut mengatakan, kegiatan seminar bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang potensi keanekaragaman hayati di Papua, dan juga mendorong peneliti-peneliti di Papua bisa menggali Potensi keanekaragaman hayati sehingga selain untuk ilmu pengetahuan juga bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Seminar kali ini diselenggarakan Karna keanekaragaman hayati di Papua melimpah yang selama ini belum dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga dengan teknologi mampu meningkatkan nilai tambah, misalnya jika ada satu tumbuhan yang jika dilakukan riset teknologi maka bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, misalkan untuk obat-obatan dan lain sebagainya,” katanya, Rabu (8/9/2015).

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan seminar biologi tersebut, diharapkan bisa memberikan motivasi kepada seluruh peneliti di Papua agar bersemangat untuk menggali potensi yang kekayaan alam di Papua, meskipun di akuinya, perkembangan peneliti biologi di Papua masih sangat lamban, baik dari segi penguasaan teknologinya, maupun peminat ilmu pengetahuan itu sendiri.

“Untuk di Papua memang masih lamban, karena ilmu biologi ini kan butuh ketekukanan dan juga dukungan baik itu fasilitas sarana dan prasarana dan dukungan dari Pemerintah, itu yang sangat penting, untuk ekplorasi saja kan butuh dana, dan itu tenaga – tenaga untuk bisa esplorasi ini kan tidak mudah, harus melaksanakn penelitian di lapangan,” katanya.

Sementara, Rektor Universitas Cenderawasih Dr.Onesimus Saheluka dalam kesempatan yang sama mengapresiasi seminar tersebut. Dikatakan, selama ini ilmu pengetahuan di Bidang Biologi masih minim peminatnya, sedang dilain pihak potensi Papua sangat besar, dan sampai hari ini belum bisa di teliti dengan baik.
“Di tanah Papua keanekaragaman sangat melimpah ,oleh kerena itu, kami dari Uncen berterimakasih atas seminar ini, sehingga dari seminar bisa berkontribusi bagi peserta seminar, dan untuk diaplikasikan untuk menjejaki penelitian di Papua,” katanya.

Seminar Biologi tersebut, selain dari universitas Cenderawasih, juga diikuti oleh beberapa instansi terkait, seperti dari kehutanan, kelautan, dan akademisi.(Edy/Papua).

Sumber : BERITA LIMA


Seminar PBI

09/06/2015
semnas-PBI

Seminar Nasional Biologi ke-XXIII
Perhimpunan Biologi Indonesia

logo-pbi-modif

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu dari hanya beberapa negara di dunia yang memiliki jumlah keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut tersebar di lima pulau besar dan pulau – pulau kecil, darat dan laut, di seluruh Indonesia. Kekayaan hayati ini menjadi modal dasar dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera.

Peranan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di bidang keanekaragaman hayati semakin berkembang. Berbagai metode penelitian dan formula dan program – program matematika terbaru ditemukan untuk mengungkap keakenakaragaman hayati, pelestarian dan pemanfaatannya meningkat beberapa dekade belakangan ini. Hal positif ini menunjang terwujudnya penemuan-penemuan baru di bidang biologi dalam berbagai aspek dan pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih berkelanjutan. Hal ini mendatangkan nilai – nilai positif bagi kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati, serta aspek biologi pada umumnya. Dengan demikian nilai – nilai ekologi, ekonomi, sosial, budaya dari keanekaragaman hayati dan manusia pun akan terpelihara untuk waktu yang lebih lama.

Selain ilmu dan tekhnologi yang menunjang pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia (kearifan lokal) yang telah berakar di dalam masyarakat menyumbangkan hal positif untuk pengelolaan dan pemanfaatan berbagai sumber daya alam hayati. Nilai – nilai tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan sehingga kekayaan hayati yang terdapat di Indonesia dapat lestari, sehingga dapat menunjang aspek-aspek pendidikan dan penelitian untuk pengembangan ilmu tentang keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi umat manusia.

Pendidikan dan penelitian menjadi dua aspek yang sangat penting dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta program konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek biologi dan ekologinya. Untuk itu, hasil – hasil penelitian dalam berbagai aspek biologi menjadi sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan berbagai aspek lingkungannya. Hasil – hasil penelitian tersebut perlu diterapkan, namun perlu juga disebar luaskan agar diketahui masyarakat lebih luas. Untuk itu, berbegai publisitas hasil – hasil penelitian tersebut melalui berbagai majalah ilmiah, seminar, lokakarya dan konferensi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk menyebar luaskan informasi hasil – hasil penelitian bagi masyarakat secara luas, khususnya para praktisi biologi. Seminar Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Papua menjadi salah satu wadah yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.


TEMA

“Peran Ilmu dan Tekhnologi Hayati dalam mewujudkan Budaya Bangsa yang mandiri dan sejahtera”

TUJUAN SEMINAR

  1. Menyediakan forum pertukaran informasi ilmiah yang berkaitan dengan penelitian biologi di Indonesia
  2. Meningkatkan tukar menukar informasi ilmiah dalam bidang biologi antar sesama peneliti, ahli, dan semua pihak yang terkait untuk memberikan ide, hasil penelitian dan pemikiran demi kemanjuan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang biologi.

LUARAN

Manfaat kegiatan Seminar Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Papua dengan tema “Peran Ilmu dan Tekhnologi Hayati dalam mewujudkan Budaya Bangsa yang mandiri dan sejahtera” adalah sebagai berikut

  1. Sebagai wadah komunikasi ilmiah untuk tukar menukar informasi khususnya tentang aspek penelitian biologi, meliputi manajemen keanekaragaman hayati, biologi terapan dan perubahan iklim terhadap biodiversitas dalam upaya mencegah terjadinya ancaman keanekaragaman hayati
  2. Sebagai sarana mempererat jalinan kerjasama dalam bidang penelitian biologi
  3. Sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan peneliti dibidang biologi
  4. Mengaplikasikan hasil penelitian biologi untuk kontribusi pembangunan daerah dan masyarakat

Hasil yang diharapkan melalui seminar ini adalah :

  1. Adanya publikasi pada jurnal nasional dan internasional.
  2. Terciptanya jaringan kerjasama sama antar berbagai universitas, peneliti, atau instansi terkait di Indonesia.

RENCANA KEGIATAN

  1. Kegiatan ini diikuti oleh para praktisi biologi dari kalangan akademisi baik PTN atau PTS, Peneliti dari instansi Pemerintah dan Swasta, Pengusaha dan Mahasiswa.
  2. Seminar ini direncanakan dihadiri sekitar 300 peserta
  3. Keynote Speaker dalam kegiatan ini Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Akademisi, LSM.
  4. Paper dari kegiatan Seminar Nasional Perhimpunan Biolog Indonesia akan dipublikasikan dalam bentuk Prosiding Nasional yang terdaftar dalam ISBN.

 

PELAKSANAAN KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan terdiri atas :

Kegiatan Tanggal

Penerima dan Seleksi Paper :

– Penerimaan Abstract

– Pengumuman Abstract diterima

– Penerimaan Full Paper

.

01 Maret – 01 Juli 2015

15 Juli 2015

.

15 Juli – 15 Agustus 2015

Pendaftaran :

Early bird registration

– Late registration

.

01 Maret – 20 Agustus 2015

21 Agustus – 08 September 2015

Pelaksanaan Seminar Nasional PBI ke-XXIII

08 – 09 September 2015

Penerbitan Proceeding

09 September 2015


Registrasi


Early bird registration


01 Maret – 20 Agustus 2015


Periode


21 Agustus – 05 September 2015


Pendaftaran pada saat


pelaksanaan Seminar

Anggota PBI (Rp) 550.000 650.000 750.000
Umum (Rp) 750.000 850.000 950.000
Mahasiswa Pascasarjana (Rp) 550.000 650.000 750.000
Mahasiswa S1 (Rp) 300.000 400.000 500.000

* Anggota PBI wajib mengupload hasil scan kartu tanda anggota saat pendaftaran dan pengiriman abstrak.

** Mahasiswa S1 dan Pascasarjana wajib mengupload hasil scan berwarna kartu tanda mahasiswa saat pendaftaran dan pengriman abstrak.

*** Biaya pendaftaran termasuk buku panduan seminar, seminar kit, tea/coffe break, dan makan siang.


Metode Pembayaran

Transfer Bank

Bank Mandiri KCP Jayapura-Waena

No. Rekening : 154-00-1249804-8

Nama : Panitia Seminar Nasional PBI XXIII

Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jayapura

No. Rekening : 0373986916 – IDR

Nama : Panitia Seminar Nasional PBI XXIII

Setelah melakukan pembayaran bukti transfer harap dikirimkan via email ke Bendahara dengan detail kontak dibawah ini:

Contact Persons Bendahara Panitia:

Dr. Lisye I. Zebua, Phone number: 081384265735,

Email: lis_pandanus@yahoo.com

Pengarah

  • Dr. Siti Nurmaliati Prijono (Ketua Umum PBI)
  • Dr. Onesimus Sahuleka, SH., M.Hum (Rektor UNCEN)
  • Ir. M. G. Nababan (Kepala BBKSDA Papua)
  • Drs. Benja V. Mambai, M.Si (Direktur WWF Papua)

Panitia

  • Dr.rer.nat. Henderite L. Ohee, M.Si (Ketua)
  • Maik Akobiarek, S.Pd, M.Pd (Wakil Ketua)
  • Hendra K. Maury, M.Si (Sekretaris 1)
  • Lisiard Dimara, S.Si, M.Si (Sekretaris 2)
  • Dr. Lisye Iriana Zebua, M.Si (Bendahara)
  • Dr. Aditya Krishar Karim, M.Si
  • Dr. Linus Yhani Chrystomo, M.Si
  • Dr.rer.nat. Ir. Henderina J. Keiluhu
  • Piter Roki Aloisius, S.Hut
  • Dr. Daniel Lantang, M.Kes
  • Dr. Suriani Br. Surbakti, M.Si
  • Evie L. Warikar, S.Si, M.Sc
  • John Kalor, MINC, M.Sc
  • Herlina Menufandu, S.Si, M.Sc
  • Lukas Tangalobo, SP, M.Si
  • Sabari Christian Mambor, S.Hut
  • Maria Sherlly Liborang
  • Dra. Rosye H.R. Tanjung, M.Sc, Ph.D
  • Dra. Supeni Sufaati, M.Sc
  • Dr. Dirk Y.P. Runtuboi, M.Kes
  • Beatrix Irene Sanderina Wanma, S.Si, M.Si
  • Dhalan, S.Kel, M.Si
  • Norce Mote, S.Si, M.Si
  • Edoward Krisson Raunsay, S.Pd, M.Si
  • Erlani F. Rahareng, S.Si
  • Dr. Agnes Supraptiwi Rahayu, M.Kes
  • Vita Purnamasari, S.Si, M.Si
  • Dr. Maklon Warpur, M.Si
  • Dr. Basa T. Rumahorbo, M.Si

Sekretariat Panitia

Alamat Sekretariat :

Gedung Jurusan Biologi,

Kampus Universitas Cenderawasih,

Jl.Kampwolker Waena, Jayapura-Papua.

.

website :
www.semnaspbi23.unicen.ac.id

.

Contact persons :

Dr. Henderite L. Ohee, Telepon Seluler: 081248446036

Hendra K. Maury, Telepon Seluler : 08121485529

.

DOWNLOAD LEAFLET SEMNAS PBI


IURAN ANGGOTA PBI

10/07/2012


The Freshwater Snail Genus Sulcospira Troschel, 1857 From Java, With Description Of A New Species From Tasikmalaya, West Java, Indonesia (Mollusca: Gastropoda: Pachychilidae)

24/04/2012
No Image
Coiling Animal

The freshwater snail genus Sulcospira Troschel, 1858 is found in Sundaland, Indochina, and southern China, and its members usually occur in relatively fast running waters, such as rivers and streams or creeks (Köhler & Dames, 2009). Three species of Sulcospira have been recorded from Java: the type species of the genus, S. sulcospira (Mousson, 1848), as well as S. pisum (Brot, 1868) and S. testudinaria (von dem Busch, 1842) (van Benthem-Jutting, 1956; Köhler & Glaubrecht, 2005; Köhler et al., 2008). Earlier authors, including Morrison (1954) and van Benthem-Jutting (1956), referred the genus Sulcospira to the family Thiaridae and recognised only one species in Java, Sulcospira sulcospira.

Morrison (1954:381) stated that the shell of S. sulcospira appears to be similar to certain species of Brotia, Tylomelania, and to immature individuals of Balanocochlis. van Benthem-Jutting (1956) described the shell of S. sulcospira and cited Troschel’s (1858) remark that the animal of S. sulcospira contained numerous shelled juveniles, each with a shell of two whorls. Another species with a turreted but more slender shell than S. sulcospira is traditionally attributed to Brotia testudinaria (von dem Busch, 1842), while specimens with a broad shell shape and a short spire are identified as Balanocochlis pisum. These three species were placed in the family Thiaridae by van Benthem-Jutting (1956; see also Wenz, 1938; Morrison, 1954).

Download Full Article


Notes On The Distribution Of Invasive Freshwater Snail Pomacea Canaliculata (Lamarck, 1822) And P. Insularum (D’orbigny, 1835) In Indonesia

23/04/2012
No Image
Pomacea canaliculata

The freshwater snails and have been reported as important invasive species causing damage to crops and predominantly wetland rice in Asia. These snails are known as “Golden Apple Snail” (GAS), an introduced species from Argentina. or known as “keong mas, keongmurbei” was introduced in Indonesia around 1983, and after more than 20 years, it now can be found very abundant at various habitats such as marshes, ponds, irrigations, lakes and rice fields in almost all places in Indonesia.

Based on the collections of these snails deposited in the MZB (Museum Zoologicum Bogoriense, Research Center for Biology) and secondary data (references), the distribution of these two snails was studied. is widely distributed, while is only found at Lake Semayang and Lake Balikpapan in Kalimantan. The distribution map is presented and will be useful as a basic information to manage these invasive snails. distribution, snail, invasive, Indonesia Pomacea canaliculata P. insularum Pomacea canaliculata Pomacea canaliculata P. insularum Pomacea canaliculata, P. insularum,

Keywords: distribution, snail, invasive, Indonesia Pomacea canaliculata, P. insularum,

Download Full Article